PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF NARASI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 4 LUBUKLINGGAU MELALUI PENGINTEGRASIAN METODE CLUSTERING DAN JOURNALIST’S QUESTIONS*
INCREASING THE ELEVENTH YEAR STUDENTS’ ABLITIES IN WRITING NARRATIVE PARAGRAPH AT SMA NEGERI 4 LUBUKLINGGAU THROUGH INTEGRATING CLUSTERING AND JOURNALIST’S QUESTIONS METHODS
ALAMSYAHRIL, ZAZILI HARYADI, DEWI UTARI**
ABSTRACT
In teaching and learning process of English, writing is the most difficult language skill to do by he students. This may be caused by the difficulty of how to find the ideas to write. This research tried to handle the problem of getting started and generating the ideas for writing by integrating clustering and journalist’s questions methods in writing narrative paragraph. The research was done through classroom action research to the eleventh year students’ of SMA Negeri 4 Lubuklinggau The process of the research was started by pre-reflection, planning, doing the action, observing and post-reflection. The result of the research shows that the students’ abilities in writing narrative paragraphs increased through integrating clustering and journalist’s questions methods. This can be seen from the students’ scores of each research cycles. In the pre-test, there was no students who got the score > 6.5. In the post-test at the end of the first cycle, there were 10 students who got the score >6.5 (25%) from 40 students who were as the setting of the investigation and the mean was 5.83. In the post-test at the end of the second cycle, the students who got the score >6.5 were 18 students (45%) and the mean was 6.46; Whereas, there were 27 students or 67.5% who got the score >6.5 and the mean was 7.03. in the post-test at the end of third cycle. In the fourth cycle, there were 36 students or
90% who got the score >6.5 and the mean was 7.83 The mean of the students’ scores before the action was 5.30 and it was 7.83 after the action. It means that the increase was 27.92%. So, there was a high increase of the students’ abilities in writing narrative paragraph after the action of cycles. It mneans that the students’ abilities in writing narrative paragraphs increased through integrating clustering and journalist’s questions methods
Key Words: writing, narrative paragraph, clustering method, journalist’s questions
INTRODUCTION
Dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai suatu bahasa asing di sekolah menengah atas, guru bahasa Inggris mengajarkan bahasa sesuai dengan kurikulum 2004. Dalam kurikulum tersebut dinyatakan bahwa tujuan utama pengajaran bahasa Inggris di sekolah menengah atas adalah mengembangkan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membnaca dan juga menulis. Kenyataannya, menulis merupakan keterampilan terakhir yang dikembangkan dari keempat keterampilan tersebut.
Menurut Olson (1992:18), menulis adalah merancang untuk memberikan ide-ide dan bentuk-bentuk dalam simbol-simbol bahasa tulisan. Pengajaran menulis selalu menjadi suatu tantangan karena menulis itu sendiri begitu sukar Banyak orang berpikir bahwa ,menulis bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, tidak dapat menjamin bahwa seseorang yang ahli dalam berbicara akan menjadi seorang yang ahli dalam menulis. Hal ini juga terjadi pada siswa. Mereka menemui kesulitan dalam menulis
Setelah melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Negeri 4 Lubuklinggau, dapatlah di katakan bahwa siswa siswa di sekolah ini khususnya kelas XI IPA2 menghadapi kesulitan dalam menemukan ide-ide yang akan ditulis. Hal ini menjadikan kendala dalam pembelajaran menulis sehingga pembelajaran menulis bisa dikatakan belum berhasil dilaksanakan di sekolah ini. Jadi akar permasalahannya adalah bagaimana memperoleh ide-ide tersebut. Siswa tidak tahu bagaimana memulai dan menyusun ide-ide untuk menulis.
Kebanyakan orang merasa takut untuk menemukan sesuatu untuk ditulis yang disebakan oleh kekhawatiran akan tidak menemukan sesuatu. Kekhawatiran ini tidak akan terjadi jika kita menggunakan teknik-teknik tertentu dengan memberikan beberapa pertanyaan sehingga menulis itu lebih mudah tidak menakutkan.
Salah satu cara menemukan ide adalah dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan. The Journalist’s five Ws (Who? What? When? Where? Why?) and one H (How?) bisa digunakan sebagai langkah dalam memulai tulisan (
Cara lain yang berhubungan dengan cara memulai menulis adalah metode clustering. Teknik ini menghendaki proses berpikir kreatif untuk menggali ide-ide. Teknik ini akan bekerja dengan baik bagi seseorang yang suka berimajinasi karena biasanya melihat hal-hal secara mudah. Menurut Mc Cuen dan Winkler (1987:29), clustering merupakan suatu teknik untuk menghubungkan suatu ide dengan bagian bagian yang lebih kecil dan berhubungan. Istilah ini kurang lebih sama dengan brainstorming namun dilakukan secara sistematis dan dengan kontrol yang lebih. Sama dengan menulis bebas, hal ini penting untuk tetap menulis tanpa sensor diri dan tanpa khawatir apakah tulisan tersebut masuk akal atau tidak
Berdasarkan alasan-alasan di atas maka penulis tertarik untuk melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas dengan mengintergrasikan kedua teknik. Dalam hal ini, penulis menggabungkan metode clustering dan journalist’s questions dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau.
Dalam penelitian ini, penulis hanya membatasi pada menulis paragraf narasi saja. Menurut Mc Cuen dan Winkler (1987:133), menulis paragraf narasi adalah keterampilan menulis yang paling mudah untuk dikuasai.
Melalui pengintergrasian metode clustering dan journalist’s questions, keterampilan menulis paragraf narasi siswa kelas XI IPA2 I SMA Negeri 4 Lubuklinggau akan meningkat. Metode clustering menuntun siswa untuk menemukan ide-ide pokok dari topik yang akan ditulis yang akan timbul setelah siswa siswa tersebut memulainya dengan menjawab journalist’s questions.
Dengan menggunakan metode clustering, siswa akan mengetahui bahwa memulai menulis bisa dilakukan dengan menuliskan ide-ide yang yang berhubungan dengan topik yang akan ditulis. Sedangkan dengan journalist’s questions, siswa akan mengetahui bahwa memulai suatu tulisan bisa bilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan seorang jurnalis yaitu dengan 5W dan 1H (Who? What? When? Where? Why? How?).
Penelitian tindakan yang mengintegrasikan metode clustering dan journalist’s questions ini akan dilaksanakan dalam 4 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 aspek yaitu: 1) penyusunan rencana; 2) tindakan; 3) observasi; dan 4) refleksi. Keempat aspek ini akan dilakukan dalam setiap siklus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya peningkatan keterampilan menulis narasi siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau melalui metode clustering dan journalist’s questions
KAJIAN PUSTAKA
1. Konsep Clustering
Clustering merupakan strategi sebelum menulis untuk menemukan hal yang akan dikembangkan dalam menulis. Strategi ini dikembangkan oleh profesor Gabriele Lusser Rico dari
Burroway (1992:5) menyatakan bahwa clustering adalah suatu teknik yang membantu dalam pengorganisasian otak kanan daripada otak kiri. Bagian otak kanan dianggap sebagai pusat ide ide kreatif. Jadi clustering merupakan suatu proses memulai kreativitas. Dalam proses pengajaran, siswa diminta untuk menuliskan ide ide mereka dengan cepat yang berhubungan dengan topik yang akan ditulis. Clustering dimulai dengan menuliskan suatu kata atau frase atau sebuah nama atau sebuah kalimat di tengah tengah halaman kertas kerja Kemudian kata atau frase tersebut dilingkari. Siswa diminta untuk menemukan kata atau frase atau nama yang muncul di benak mereka yang kemudian dihubungkan dengan nama atau frase atau kata yang terletak di tengah lembar kerja tadi. Mereka melakukan hal ini dengan cepat.
2. Konsep Journalist’s Questions
Journalist’s questions adalah teknik pengajaran menulis yang menggunkan 5 W’s dan 1H (Who, What, Where, When, Why, dan How). Wartawan
Kunci dari penggunaan journalist’s questions adalah membuatnya cukup fleksibel untuk mencari hal hal yang rinci dari suatu topik. Hal ini berarti bahwa bagaimana memberikan pertanyaan yang tepat untuk suatu topik. Misalnya, suatu topik mungkin menekankan pada pertanyaan who saja, atau what saja atau where saja dan sebagainya. Oleh karena itu keunggulan dari journalist’s questions adalah dapat membantu penulis melihat hubungan antara ide ide yang akan dikembangkan.
3. Pengajaran Menulis Melalui Metode Clustering
Mengajar menulis adalah sutau tugas yang berat bagi seorang guru. Guru harus menyediakan suatu kegiatan yang membuat siswa tertarik pada menulis. Akan tetapi pengajaran menulis akan menjadi lebih menyenangkan jika topik yang akan ditulis menarik dan kegiatan sebelum menulis menyenangkan.
Menurut Carino (1991:16) dan Dorothy (1991:53), ada beberapa langkah langkah yang dapat digunakan guru dalam teknik clustering. Langkah langkah tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut:
- Memberikan suatu topik yang menarik yang ditulis di papan tulis.
- Melingkari topik tersebut
- Menarik garis dari lingkara tersebut
- Meminta siswa untuk brainstorm ide ide yang relevan dengan topik dan meletakkannya dalam lingkaran yang dihubungkan oleh garis tersebut tanpa berhenti berpikir.
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan cluster nya sendiri.
- Meminta siswa untuk menulis suatu paragraf narasi berdasarkan ide ide yang terdapat dalam cluster.
Berikut ini adalah contoh cluster dengan topik “accident”. Siswa dapat menuliskan topik yang lebih spesifik dari topik topik dalam cluster tersebut.

4. Pengajaran Menulis Melalui Journalist’s Questions
Dalam penggunaan journalist’s questions, guru memberikan suatu topik yang menarik kemudian menggeneralisasikan ide ide dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan berikut:
- Who? Siapa yang ada selama kejadian tersebut? Siapa pemeran utamanya?
- What? Apa yang dikerjakan oleh mereka? Apa yang dikatakan mereka? Apa yang terjadi dengan pemeran utama?
- Where? Dimana kejadian tersebut berlangsung?
- When? Kapan kejadian tersebut berlangsung?
- Why? Mengapa kejadian tersebut terjadi?
- How? Bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi?
White dan Arndt (1991:22) menggambarkan prosedur menggunakan pertanyaan pertanyaan tersebut sebagai berikut:
- Guru memperkenalkan topik dan meminta siswa untuk memebrikan pertanyaan tentang hal hal yang berhubungan dengan topik.
- Setelah itu, siswa secara individu diminta untuk menuliskan paling sedikit tiga pertanyaan. Berikan beberapa menit kepada siswa untuk berfikir.
- Siswa berpasangan membandingkan pertanyaan pertanyaan mereka.
- Guru meminta beberapa siswa membaca pertanyaan pertanyaan mereka. Pertanyaan pertanyaan tersebut dikumpulkan dan dituliskan di papan tulis. Sekarang siswa mempunyai banyak pertanyaan yang harus dijawab dan dapat digunakan sebagai dasar dalam menulis paragraf narasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Dari tes awal yang diberikan kepada siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau sebelum melaksanakan tindakan penelitian, dicapai hasil rerata nilai sebesar 5,30. Hasil data tes awal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada siswa di kelas tersebut yang memperoleh nilai ≥ 6,5 dari 40 siswa yang dijadikan setting penelitian. Hasil tes awal ini memberikan informasi tentang kemampuan siswa dalam menulis paragraf narasi. siswa. Dari hasil tes awal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum mengenal metode clustering and metode journalist’s questions, ternyata kemanpuan siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau dalam menulis paragraf narasi sangat rendah.
Dari tes akhir siklus I didapat bahwa siswa memperoleh nilai ≥ 6,5 berjumlah 10 orang atau 25%, sedangkan yang memperoleh nilai £ 6,5 berjumlah 30 siswa atau 75%. Sedangkan nilai rerata pada siklus I ini adalah 5,83.
Secara kuanitatif hasil tes akhir siklus I telah meningkat dari 5,30 ke 5,83. hasil ini mengalami peningkatan sebesar 0,53 atau (5,83-5,30) : 5,30 x 100% = 10%. Walaupun tes akhir siklus I terlihat mengalami peningkatan, namun masih belum sesuai dengan target daya serap secara klasikal yaitu 25% yang masih di bawah 85% secara standar ketuntasan klasikal. Dengan demikian penelitian tindakan kelas siklus I ini perlu dilanjutkan.
Dari hasil tes siklus II diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai ≥ 6,5 berjumlah 18 siswa dengan persentase 45%. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai £ 6,5 adalah berjumlah 22 siswa dengan persentase sebesar 55%. Adapun perolehan nilai rerata pada tes akhir siklus II adalah 6,46. Secara kuantitatif hasil tes akhir tersebut siklus II telah meningkat dari 5,83 ke 6,46. Hasil ini mengalami peningkatan sebesar 0,63 atau (6,46-5,83) : 5,83x 100% = 10,80%. Walaupun tes akhir siklus II terlihat mengalami peningkatan dari rerata tes akhir siklus I, namun masih belum sesuai dengan target daya serap secara klasikal yaitu sebesar 45%. Dengan demikian penelitian tindakan kelas siklus II ini perlu dilanjutkan.
Setelah dilakukan refleksi pada siklus II ternyata harus dilanjutkan ke siklus III. Dari tes akhir siklus III diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai ≥ 6,5 adalah berjumlah 27 siswa dengan presentase sebesar 67,5%. Sedangkan yang memperoleh £ 6,5 adalah berjumlah 13 siswa dengan prosentase sebesar 32,5%. Nilai rerata pada tes akhir siklus III sebesar 7,03. Secara kuantitatif hasil tes akhir tersebut siklus III telah meningkat dari 6,46 ke 7,03. Hasil rerata ini mengalami peningkatan sebesar 0,57 atau (7,03-6,46) : 6,46x 100% = 8,82%.
Secara klasikal tingkat ketuntasan belajar pada tes akhir siklus III masih belum tercapai. Siswa yang memperoleh nilai nilai ³ 65 adalah berjumlah 27 siswa dengan presentase sebesar 67,5% dari 40 siswa yang dijadikan setting penelitian. Oleh karena itu perlu dilanjutkan pada siklus ke empat. Dari tes akhir diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai £ 6,5 adalah berjumlah 4 siswa dengan presentase sebesar 10%. Sedangkan yang memperoleh ³ 6,5 adalah berjumlah 36 siswa dengan prosentase sebesar 90%. Adapun perolehan nilai rerata pada tes akhir siklus IV sebesar 7,83.
Akhirnya dari keseluruhan tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti melakukan kegiatan dalam empat siklus dengan sepuluh kali pertemuan. Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas ini dapat disimpulkan bahwa pengintegrasikan metode Clustering dan metode Journalist’s Questions dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan meningkatkan menulis paragraf narasi siswa siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau
Peningkatan kemampuajn menulis paragraf narasi sebelum dan sesudah tindakan sebesar {(R2 – R1):R1} X 100% = {(6,78-5,30) : 5,30} x 100% = 27,92%. Hasil akhir yang dicapai siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau dalam menulis paragraph narasi melalui pengintegrasian metode Clustering dan metode Journalist’s Questions selama empat siklus mengalami peningkatan sebesar 27,92%.
2. Pembahasan Hasil Penelitian
Kegiatan pembelajaran dalam siklus I yang terdiri dari tiga pertemuan ini membahas tentang penulisan paragraph narasi dengan topik “A Visit to . . . “ dengan menggunakan metode clustering. Pada pertemuan pertama materi yang disampaikan adalah tentang pengenalan metode clustering dalam menulis paragraf. Di pertemuan pertama ini para siswa mulai diberikan pemahaman konsep clustering. Selain itu siswa juga diajarkan tentang paragraf narasi.
Pada pelaksanaan tindakan Siklus I pertemuan kedua, para siswa berlatih menulis paragraph narasi dengan menggunakan metode clustering misalnya kegiatan yang mereka lakukan ketika liburan.
Setelah melakukan tindakan dalam dua pertemuan, maka diadakan pertemuan ketiga dalam siklus I ini. Pada pertemuan ketiga ini, guru memberikan tes akhir siklus I dengan meminta siswa membuat cluster dan paragraph narasi tentang “A Visit to . . . “. Siswa diminta untuk mencerikan suatu tempat yang pernah mereka kunjungi, misalnya siswa menulis tentang “A Visit to Palembang”, maka siswa diminta untuk membuat beberapa cluster yang berhubungan dengan
Selama pelaksanaan siklus I ini, siswa kelihatannya masih agak bingung tentang penggunaan metode clustering dalam menulis paragraf narasi. walaupun ada beberapa gelintir siswa yang sedikit antusias. Siswa yang sedikit antusias ini berani bertanya tentang hal hal yang berhubungan dengan clustering. Selama proses pembelajaran pada pertemuan pertama ini, guru lebih dominan sehingga proses pembelajaran berlangsung satu arah. Dalam hal ini siswa hanya menyimak penjelasan dari guru saja. Pada pertemuan kedua siswa kelihatannya lebih aktif. Hal ini dikarenakan guru model memberikan contoh cluster dan meminta para siswa untuk membuat cluster mereka sendiri. Hal ini menjadikan proses pembelajaran ini menarik. Selanjutnya diadakan pertemuan ketiga dalam siklus I ini. Pada pertemuan ketiga ini sekaligus diberikan tes akhir siklus I dimana siswa diminta untuk menulis sebuah paragraf narasi dengan menggunakan metode clustering.
Berdasarkan data dari observasi wawancara dan hasil refleksi pada siklus I dirasakan perlu untuk menyusun tindakan baru pada siklus II. Pada tahap ini, pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode journalist questions dalam pembelajaran menulis paragraf narasi. Pada siklus II ini juga terdiri atas tiga kali pertemuan. Adapun tema yang dibahas dalam ketiga pertemuan ini adalah masih tentang Culture and Arts dengan topik “Watching A Spectacular Show’ dengan menggunakan metode journalist’s questions. Pengenalan metode journalist’s questions dalam menulis paragraf narasi disampaikan pada pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini para siswa mulai diberikan pemahaman konsep journalist’s questions yang digunakan dalam menulis paragraf narasi.
Pada pelaksanaan tindakan Siklus II pertemuan kedua, para siswa berlatih menulis paragraph narasi dengan menggunakan metode journalist’s questions misalnya pengalaman ketika menonton suatu pertunjukan.
Setelah melakukan tindakan dalam dua pertemuan, maka diadakan pertemuan ketiga dalam siklus II ini. Pada pertemuan ketiga ini, guru memberikan tes akhir siklus II dengan meminta siswa memenulis sebuah paragraf narasi tentang “Watching A Spectacular Show“. Siswa diminta untuk mencerikan pengalaman mereka ketika menonton suatu pertunjukkan misalnya siswa menulis tentang “Watching Indonesian Idol Show”, maka siswa diminta untuk membuat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pertunjukkan Indonesian Idol tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggunakan 5W 1H, misalnya What time did the show begin? Who are the contestants? Where did the show take place? dan sebagainya. Setelah itu barulah siswa membuat sebuah paragraf narasi dengan berdasarkan jawaban dari pertanyaan yang telah mereka buat tadi.
Selama pelaksanaan siklus II ini, siswa kelihatannya masih agak susah menggunakan metode journalist’s questions dalam menulis paragraf narasi. Oleh ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan siswa yang berhubungan dengan cara cara membuat pertanyaan dengan menggunakan 5W 1H. Selama proses pembelajaran pada pertemuan pertama ini, guru lebih banyak menjelaskan tentang WH questions, misalnyan tentang konsep WH words, tenses, atau auxiliary verbs. Pada pertemuan kedua siswa kelihatannya sudah lebih memahami tentang journalist’s questions. Hal ini dapat dilihat dari semangatnya para siswa membuat contoh contoh kalimat WH questions dan semangatnya mereka mendiskusikan kalimat kalimat tanya yang telah mereka buat dengan guru model. Oleh karena itu proses pembelajaran pada pertemuan kedua siklus II ini menjadi lebih menarik.
Selanjutnya diadakan pertemuan ketiga dalam siklus II ini. Pada pertemuan ketiga ini sekaligus diberikan tes akhir siklus II dimana siswa diminta untuk menulis sebuah paragraf narasi dengan menggunakan metode journalist’s questions.
Walaupun terdapat perbedaan antara kemampuan menulis paragraf narasi siswa dalam kedua siklus,namun penulis merasa perlu untuk melanjutkan ke siklus III setelah melakukan refleksi pada hasil tes akhir siklus II. Siklus III ini terdiri dari 3 pertemuan. Pada siklus III ini, penulis mengintegrasikan metode clustering dengan metode journalis questions dalam pembelajaran menulis paragraph narasi siswa siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau.
Pada pertemuan pertama dari siklus ini, kegiatan pembelajaran lebij menekankan pada diskusi dan tanya jawab tentang kesulitan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menuliskan paragraf narasi dengan menggunakan metode clustering dan juga dengan menggunakan metode journalist’ questions. Oleh karena itu guru model memberikan semacam penyegaran kepada siswa tentang penggunaan kedua metode ini dalam pembelajarn menulis paragraf narasi. Jadi pada pertemuan pertama ini siswa belum memulai menulis paragraf narasi dengan mengintegrasikan kedua metode ini.
Proses pembelajaran yang mengintegrasikan kedua metode ini terjadi pada tertemuan kedua dari siklus III ini. Pada pertemuan ini, guru model mengarahkan siswa untuk mengintergrasikan kedua metode ini dalam memulai menulis suatu paragraf narasi.
Dalam pertemuan kedua ini, topik yang dipakai masih berhubungan dengan Culture and Arts yaitu “My favourite . . . .”.
Dengan penuh kesabaran, guru model membimbing siswa dalam menuliskan paragraf narasi melalui pengintegrasian kedua metode ini. Dan juga guru model dengan sabar membantu mengatasi kesulitan siswa dalam mengintegrasikan kedua metode ini. Dalam pertemuan kedua dari siklus III ini terlihat juga bahwa siswa yang pada pertemuan pertemuan sebelumnya belum aktif menjadi aktif.
Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengintegrasikan kedua metode ini dalam menulis paragraph narasi, maka diadakan pertemuan ketiga. Pada pertemuan ketiga ini, siswa diminta untuk menuliskan sebuah paragraph narasi dengan tema yang sama digunakan dalam pertemuan sebelumnya akan tetapi topiknya berbeda. Misalnya, pada pertemuan kedua siswa menuliskan tentang “My favorita music”, maka pada pertemuan ketiga ini siswa menuliskan sebuah paragraph narasi dengan topik “My favourite singer” atau pada pertemuan kedua siswa menuliskan “My favourite singer” maka siswa boleh tetap menuliskan topik ini tapi singer nya berbeda.
Dari refleksi yang dilakukan bedasarkan hasil tes akhir siklus III dan juga dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, kepala sekolah dan tim dari STKIP PGRI Lubuklinggau maka perlu diadakan lagi siklus IV. Salah satu yang menjadi alasan perlunya diadakan siklus IV adalah belum tuntasnya pembelajaran secara klasikal karena persentase yang tuntas baru 67,5%. Sedangkan ketuntasan belajar yang dikehendaki 85%.
Silklus IV ini hanya ada satu pertemuan saja yaitu siswa hanya diminta untuk sekali lagi mengintegrasikan metode clustering dan metode journalist’s questions dalam menuliskan suatu paragraf narasi. Topik yang digunakan dalam menulis paragraf tersebut adalah “Traditional Dance”
Karena persentase ketuntasan belajar secara klasikal di atas 85% yaitu 90%, maka peneliti memutuskan untuk mengakhiri penelitian tindakan kelas ini sampai siklus IV saja. Untuk siswa yang belum tuntas, peneliti penyarankan kepada guru model untuk memebrikan remedial saja sampai siswa tersebut mencapai nilai ³ 6,5. Jadi penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam empat siklus dengan sepuluh kali opertemuan. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pengintegrasian metode clustering dan metode journalist’s questions dapat meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Lubuklinggau tahun pelajaran 2006/2007 yang dapat dilihat dari ketuntasan belajar sebesar 90% setelah melalui empat siklus.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak 4 siklus dangan 9 kali pertemuan dan hasil pembahasan yang telah dituliskan dalam bab IV maka dapat disimpulkan bahwa pengintegrasian metode clustering dan metode journalist’s questions dapat meningkatkan kemampuan menulis paragraf narasi siswa siswa kelas XI IPA2 SMA Negei 4 Lubuklinggau. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan nilai tes akhir siswa mulai dari tes awal sampai tes akhir siklus IV.
Secara keseluruhan nilai rerata tes sesudah dilakukan tindakan dalam empat siklus adalah 6,78. Sedangkan peningkatan kemampuan menulis paragraf narasi sebelum dan sesudah tindakan sebesar 27,92%. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis paragraf narasi siswa kelas XI IPA2 SMA Negeri 4 Luibuklinggau meningkat setelah diadakannya proses pembelajaran menulis dengan mengintegrasikan metode clustering dan journalist’s questions.
Setelah dilaksanakan refleksi hasil penelitian siklus I, siklus II, siklus III dan siklus IV maka dapat dituliskan saran sebagai berikut:
1. Pengintegrasian metode clustering dengan metode journalist’s questions dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis paragraf narasi karena kedua metode ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.
2. Guru maupun siswa hendaknya lebih aktif dalam mencari sumber belajar untuk mendapatkan berbagai macam cara cara untuk memulai menulis yang dapat dilakukan melalui browsing di internet atau mencari beberapa sumber sumber lain.
3. Sebaiknya bila melakukan Peneltian Tindakan Kelas (PTK) pelatihan guru model tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali. Hal ini sangat membantu sekali seperti yang sudah dilakukan dalam penelitian ini. Sehingga dapat membimbing guru model bagaimana mengintegrasikan metode clustering dan metode journalist’s questions dalam pembelajaran menulis paragraf narasi.
4. Diharapkan adanya tindakan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang pendekatan pengintegrasian metode clustering dan journalist’s questions untuk proses pembelajaran menulis jenis jenis karangan yang lain misalnya paragraf deskripsi, eksposisi atau argumentasi.
DAFTAR PUSTAKA
Burroway, J. 1992. Writing Fiction: a guide to narrative craft (3rd). New York, NY: Harper Collins Publisher.
Carino, P. 1991. Basic Writing: a fir stcourse. New York, NY: Harper Collins Publisher.
Depdikbud. 1996. Kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dorothy, H. 1991. Teaching Writing to Adults. New York:Delmar Publisher, Inc.
Fergenson, L. 1989. Writing with Style: rhetoric-reader: Handbook. Orlando, FL: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Flower, L. 1985. Problem Solving strategies for Writing. Orlando, FL: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Gardner, T. 1998. Traci’s List of ten Prewriting exercises for Personal Narrative. Retrieved from Daedalus website. (http:/www.tengrrl.com/tens/006.html) on Jan, 13, 2004.
Martin, M and M. Gerard. 1993. Writing Wisely and Well. New York, NY: McGraw-Hill.
McCuen, J.R. and A.C. Winkler. 1987. Rewriting Writing: A Rhetoric. Orlando, FL: Harcourt Brace Jovanovich.
Olson, C.B. 1992. Thinking Writing Fostering Critical Thinking through Writing. New York, NY: Harper Collins Publishers.
Roffi’udin, A.H. 1994. Rancangan Penelitian Tindakan. Makalah Disampaikan dalam Seminar Sastra oleh HMJ FPBS IKIP Bandung.
Webb, S.S. and W.E. Tanner. 1985. A Writer’s Plan. Orlando, FL: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
White, R. And V. Ardnt. 1991. Process Writing. London: Longman.
William, H. 1988. The Basic Writer’s Rhetoric. New York, NY: Harper Collins Publishers.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar